Kenapa Harus Berumrah Sesuai Sunnah (Petunjuk) Rasulullah? Bagian 2

Saudaraku rahimakumullah, marilah kita banyak bersyukur kepada Allah karena kita termasuk salah satu dari para perindu tanah suci yang dimudahkan oleh Allah untuk menyambut undangan-Nya. Ya, marilah bertahmid dan memuji Allah dengan menundukkan hati, merenung dengan khusyuk, lalu menengadahkan tangan dan memandangkan wajah kita ke atas, bahwa kita adalah para hamba yang terpilih dari sekian banyak hamba Allah yang belum diberi kemudahan.

Oleh karenanya, manfaatkanlah kesempatan tersebut untuk melaksanakan ibadah ini dengan cara yang terbaik. Allah mengatakan,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“(Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2)

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “(Paling baik amalnya) yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling shawab (sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Beliau melanjutkan, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi, maka amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau namun tidak ikhlas, maka amalan tersebut juga tidak akan diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hanbali, hlm. 20)

Benar, amalan yang dikerjakan seorang hamba harus terbangun di atas 2 pondasi penting ini; ikhlas dan mengikuti sunah Rasulullah.

Termasuk dalam ibadah umrah, sebagaimana nanti akan kami jelaskan.

Jemaah umrah yang dimuliakan Allah, oleh karena itu termasuk visi utama Travel Bina Umroh adalah membimbing para Jemaah agar bisa –dengan izin Allah–merealisasikan dambaan mereka, beribadah umrah di atas sunah.

Dengan harapan, pahala besar di sisi Allah serta berbagai keutamaan yang telah disebutkan di atas. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

Demikian pula agar jangan sampai ibadah yang kita kerjakan, harta yang sudah kita curahkan, tenaga yang telah kita keluarkan, waktu yang sudah kita korbankan tidak mendapatkan pahala yang sempurna, atau bahkan sama sekali tidak diterima oleh Allah. Sehingga kita menjadi orang yang merugi tanpa kita sadari.

Allah telah mewanti-wanti kita agar jangan sampai seperti orang yang paling merugi amalannya.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِيْنَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amalannya?” Yaitu orang-orang yang amalannya telah sia-sia dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Dijelaskan oleh pakar tafsir Imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Yaitu orang-orang yang mengamalkan amalan yang tidak sesuai syariat yang diridhai dan diterima oleh Allah, sementara mereka berkeyakinan di atas kebaikan, dan meyakini amalan mereka diterima dan dicintai.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Bersambung….

Bagikan informasi ini ke media sosial Anda:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *